Jumat, 08 Juni 2012

Watu Gede pemilik gamelan mesterius



Penulis dan putri bungsu didepan watu gede
Selama saya berpetualang baru kali ini menemui sebuah batu besar utuh dengan ukuran spektakuler,batu ini terletak dipersawahan dipinggir jalan desa.Tepatnya terletak di desa Tlogomulyo kecamatan Tlogo Kabupaten Temanggung,Posisi batu sebagian masih terpendam sekitar dua sampai tiga meter kedalam tanah.Secara kasat mata ukurannya, tinggi 6 meter dari permukaan tanah, panjang sepuluh meter dan  lebar  tujuh meter.Pernah suatu saat akan dipecah oleh tukang pemecah batu ternyata terlalu keras,bahkan yang bersangkutan jatuh sakit akhirnya sampai meninggal dunia. Karena desa ini terletak di kaki gunung Sumbing,maka disekitarnya banyak pula batu-batu besar,kemungkinan sisa material letusan gunung sumbing pada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.Tapi sayang sudah banyak yang dipecah menjadi seukuran batu bata kemudian dijual untuk dijadikan pondasi rumah dan bangunan lainnya. Karena jauh dari pengaruh kehidupan perkotaan.maka budaya setempat masih terjaga sampai sekarang, Kegiatan-kegiatan budaya bahkan dilaksanakan beberapa kali dalam satu tahunnya,seperti nyadran atau selamatan pemandian nyadran makam dan lain sebagainya.disetiap acara nyadran pasti disertai dengan pertunjukan pertunjukan kesenian seperti kuda lumping , wayang kulit ,sandul,ketoprak serta pertunjukan pertunjukan kesenian setempat lain yang masih dilestarikan hingga kini. Tersebar cerita dikalangan masyarakat setempat batu besar ini merupakan tempat tinggal para demit setan peripayangan ,sehingga batu ini kelihatan angker,sehingga ada istilah jalmo moro jalmo mati sato moro sato mati.Artinya manusia yang mendekat akan meninggal dunia hewan yang mendekatpun akan mati pula.Akan tetapi sebelum zaman ramai seperti sekarang ,penghuni atau demit disini sangat membatu masyarakat setempat serta penduduk disekitar desa Tlogo.sahdan pada dahulu kala untuk menyelenggarakan  acara kesenian seperti kuda lumping ,wayang kulit  dan lainnya,seperangkat alat musik atau gamelan harus didatangkan dari kabupaten dengan jarak puluhan kilometer ,sedangkan alat transportasi belum seramai sekarang,akan tetapi khusus penduduk desa Tlogomulyo dan sekitarnya cukup menyediakan sesaji ditempat watu gede atau batu besar yang berada di perbatasan desa itu pada malam hari,pada pagi harinya secara ajaib sudah tersedia seperangkat gamelan lengkap dengan alat penabuhnya sekalian. Sedangkan untuk mengembalikannya ,setelah selesai pertunjukan gamelan seperangkat diletakan didepan batu besar tersebut disertai sesaji pada malam hari,paginya gamelan seperangkat tersbut sudah hilang secara ajaib pula.Pernah suatu saat ada salah satu perangkat yang ketinggalan tidak ikut dikembalikan maka terjadilah bencana alam angin besar ,penduduknya banyak yang sakit,setelah tokoh setempat diprimpeni atau diberi tahu secara gaib oleh penunggu batu besar itu ,perangkat yang ketinggalan kemudian dikembalikan,dengan cepat bencana segera reda.Akan tetepi manusia memang tiada puasnya ,sudah dipinjami gratis lagi ada yang berpikiran ingin memiliki seperangakat gamelan tersebut.
Penulis didepan watu gede
Dengan akal bulusnya,seperangkat gamelan yang telah siap untuk dikembalikan,satu persatu alat alat itu diolesi dengan kotoran ayam.Harapan orang orang tersebut seperangkat gamelan yang telah diolesi kotoran ayam dipastikan tidak akan bisa kembali hilang secara gaib,sehingga gamelan tersebut dapat dimiliki untuk selama lamanya.Bahkan mungkin dalam pikirannya bisa dijual lantas uangnya untuk membeli keperluan lain dan mungkin untuk bersenang senang.dasar manusia serakah sudah diberi hati masih merogoh ampela.
Akan tetapi harapan tinggalah harapan,dari zaman dahulu sampai zaman sekarangpun segala sesuatu tidak bisa didapat secara instan,segalanya harus didapat melalui perjuangan,seperangkat gamelan itu hilang musnah hingga sekarang.Masyarakat desa Tlogopun ikut merasakan kekecewaan yang sangat mendalam.Karena sejak peristiwa itu hingga saat ini watu gede tidak mau lagi meminjamkan seperangkat gamelannya.Walaupun telah diadakan berbagai ritual bahkan telah didatangkan orang pintar dari pelosok negeri tetap saja sulit untuk mengulangi suatu fasilitas yang luar biasa yang diberikan oleh danyang dan demit penunggu watu gede.
Semoga peristiwa ini dapat menjadi contoh bagi kita semua bahwasannya menjadi orang janganlah serakah untuk mendapatkan sesuatu harus dengan perjuangan bukan dengan cara instan semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar